5 Kesalahan yang Jarang Disadari Humas

Share post
Gagas Gayuh Aji, dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, di GPR Academy BPSDM Jatim Bootcamp 2023, Surabaya, Selasa (5/12/2023). Foto: Rouf/BPSDM Jatim.

Menurut Gagas Gayuh Aji, dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, ada lima kesalahan mendasar yang kerap dilakukan oleh praktisi humas. Apa saja?

SURABAYA, HUMASINDONESIA.ID – Walaupun sering dicap bekerja “di balik meja”, kenyataannya peran humas sangat vital bagi organisasi. Mereka bertanggung jawab membentuk citra positif dan menciptakan reputasi baik di kalangan publik.

Namun, perannya kerap dirasakan kurang optimal karena berbagai sebab. Bahkan, praktisi humas pun tidak menyadarinya. Demikian menurut Gagas Gayuh Aji, dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, saat mengisi GPR Academy BPSDM Jatim Bootcamp 2023 di Surabaya, Selasa (5/12/2023). Di hadapan peserta ia mengurai lima problematika dasar yang kerap dijumpai di humas. Berikut ulasannya:

1. Kurang Memahami Organisasi

Menurut pria yang sebelumnya merupakan Digital Media Expert untuk Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Gresik, kesalahan utama yang kerap dilakukan oleh humas adalah tidak sepenuhnya memahami berbagai aspek dan dinamika organisasi.

Gagas memberi contoh, humas yang bekerja di perusahaan bisnis korek api akan cenderung memperkenalkan manfaat korek api sebagai alat untuk membakar sesuatu. Menurut Gagas, humas juga perlu menyampaikan manfaat lain tentang korek api, misalnya, alat seni sehingga dapat menarik perhatian publik.

2. Kegagalan Membedah Audiens

Ketidakmampuan humas dalam menganalisis dan memahami target sasaran audiens akan berdampak pada ketidakberhasilan strategi komunikasi yang telah disusun. Pemahaman mendalam terhadap audiens membantu humas menciptakan pesan yang lebih efektif, membangun hubungan yang kuat, dan meningkatkan dampak kampanye yang baik.

3. Tidak Mengerti Revolusi Digital

Sudah semestinya praktisi humas selalu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Misalnya, memanfaatkan digital platform untuk membangun hubungan baik dan menciptakan komunikasi dua arah secara efektif kepada audiens.

4. Mengabaikan Riset

Faktanya, pekerjaan humas tidak bisa terlepas dari riset. Selain, menganalisis target audiens, humas perlu melakukan riset sebelum menyusun strategi komunikasi. Dengan cara itu, humas dapat mencapai objektif yang diharapkan. Setelah program komunikasi dilaksanakan, humas juga masih memerlukan riset untuk mengevaluasi programnya. 

5. Fokus pada Kepuasan Pribadi

Saat ini aktivitas humas yang berintegrasi dengan media sosial tidak akan terlepas dari pembuatan konten. Dalam membuat konten, hendaknya humas memikirkan keinginan audiens dan kesesuaian visi perusahaan, bukan idealisme pribadi. “Jadi, jangan mentang-mentang suka warna biru, bukan berarti semua kontennya harus berwarna biru,” ujarnya.

Pemaparan Gagas mengenai problematika dasar humas memantik diskusi dari para peserta. Salah satunya, Melanie. Sebagai admin media sosial, ia merasa upaya memberikan komunikasi yang efektif pada akhirnya menyesuaikan selera pimpinan yang biasanya “old school”. Gagas menjawab, sebagai humas mereka harus menyamakan persepsi dengan para pimpinan. Humas perlu menyajikan data audiens yang akurat saat menyampaikan ide-idenya untuk meluluhkan hati para pimpinan. (AZA)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas