“Personal Branding” Butuh Tiga Tahapan

Share post
Personal branding adalah proses kita menggali hal yang unik tentang diri ini kemudian mengomunikasikannya kepada audiens yang tepat. Dok. Istimewa

“Bagi praktisi humas dan public relations (PR), personal branding adalah aspek yang sangat penting. Sebab itu menjadi cara untuk memasarkan diri ke dunia”.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Begitulah kata Ayu Kusuma, co-founder dan Direktur Think PR, saat menjadi pemateri di workshop APPRIentice, Jumat (16/10/2020). 

 Menurutnya, personal branding adalah proses kita menggali hal yang unik tentang diri ini kemudian mengomunikasikannya kepada audiens yang tepat. “Gambaran mengenai seseorang ditandai sebagai suatu merek (brand),” ujarnya.

Di era seperti sekarang, penting membangun personal branding. Untuk tujuan, antara lain, meningkatkan krediblitas, memudahkan kita memperoleh kepercayaan, menjadi pembeda, dan menunjukkan keistimewaan diri. “Pun demikian halnya pada saat kita membeli suatu produk, kita akan mencari keistimewaan merek yang ada di hadapan kita, lalu membandingkannya dengan mereka yang lain,” ujarnya.  

Ayu mengatakan, ada sembilan strategi dasar untuk membangun personal branding. Sembilan strategi tadi ia kelompokan menjadi tiga strategi besar. Terdiri dari analisis, peluncuran (launch) dan merawat (maintain).

Pertama analisis. Analisis mulai dari, pertama, siapa kita, apa kemampuan dan passion kita. Kedua, menganalisis seperti apa kita ingin orang lain memahami kita. Langkah ini bisa dilakukan dengan cara kita dalam membangun hubungan personal, profesional dan reputasi secara on-line. Ketiga, menganalisis apa yang ingin kita capai atau dapatkan.

Strategi kedua yang dilakukan adalah peluncuran. Saat itu ciptakan merek anda lewat emosi dan kalimat, image, emosi dan storytelling. Kemudian, bangun ekosistem atau kehidupan kita yang saling memengaruhi seperti rumah dan tempat pekerjaan. Lalu, bangun jejaring agar orang lain semakin memahami dan mengenal siapa diri kita dengan cara membangun relasi kepada influencers, komunitas dan off-line.

Strategi ketiga adalah merawat. Mulai dari membuat konten yang original di media sosial, ikut terlibat dengan cara membangun percakapan, memberikan komentar positif dan berbagi cerita atau kegiatan yang positif. Selanjutnya, mendengar dan memonitor. “Pasti ada saja audiens yang tidak suka dengan kita. Jangan kecil hati, bisa jadi kritikan itu justru membangun dan mendorong kita menjadi lebih baik,” pungkasnya. (rtn)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas