Asmono Wikan: PR Mesti Bersahabat dengan Media

Share post
Asmono Wikan, CEO HUMAS INDONESIA saat menyampaikan materi di acara inhouse training Angkasa Pura II di Gedung Airport Construction Division, Jakarta, Kamis (3/11/2022). Foto: Dok. Pribadi

Praktik media relations memiliki banyak keuntungan bagi praktisi public relations (PR). Salah satunya untuk memperkuat reputasi organisasi/korporasi.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Sebagai komunikator sebuah perusahaan ataupun organisasi, humas perlu mewaspadai pergerakan isu. Isu yang berubah menjadi krisis harus segera diatasi. Salah satu upaya mitigasi krisis yang bisa dilakukan oleh praktisi public relations (PR) adalah menjalin hubungan baik dengan media arus utama, khususnya media-media yang mendapatkan reputasi bagus dari publik.

Hal tersebut disampaikan oleh Asmono Wikan, CEO HUMAS INDONESIA ketika menjadi narasumber dalam acara inhouse training Angkasa Pura II di Gedung Airport Construction Division, Jakarta, Kamis (3/11/2022) bertajuk “Social Media and Journalist Behind the Curtain”. Saat memaparkan materi yang berjudul “Indonesia Media Landscape, Media Relations & Hak Jawab”, Asmono lebih dulu melemparkan pertanyaan kepada 40 peserta yang hadir mengenai perbedaan pers dan media. Hasilnya, banyak dari peserta yang masih “abu-abu” dalam memahami kedua istilah itu.

Acara yang diselenggarakan atas kerja sama PT Angkasa Pura II (Persero) dan HUMAS INDONESIA itu berlangsung hingga Jumat (4/11/2022), juga menghadirkan dua narasumber lain yang banyak berbicara tentang manajemen media sosial. Mereka adalah Nugraha Andaf (CEO Andaf Corporation) dan Arya Gumilar (Founder BAYK Strategic).

Menurut pria yang kini juga menjabat sebagai Anggota Dewan Pers itu, pers sebagaimana definisi dalam UU No 40/1999 tentang Pers, diartikan sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik. Adapun media merupakan platform dengan bentuk yang bermacam-macam seperti televisi, baliho, poster, hingga yang berbasis digital (online). “Semua platform media yang menjalankan tugas jurnalistik adalah lembaga pers,” tegasnya.

Penjelasan mengenai kedua definisi itu akan sangat berguna bagi humas perusahaan ketika menghadapi oknum wartawan yang datang ke kantor untuk meminta keterangan. Asmono menegaskan, humas perusahaan harus berhati-hati ketika berhadapan dengan media.

“Mulai hari ini, jangan ragu! Jika kedatangan tamu mengaku sebagai wartawan dari lembaga pers yang diragukan kejelasan identitasnya, tanyakan saja apakah media bersangkutan memiliki newsroom dan produk pers,” ujarnya.

Lebih lanjut, Asmono juga menjabarkan bahwa media arus utama memiliki banyak sisi positif yang tentunya akan membantu kinerja humas. Pertama, kepercayaan publik terhadap media arus utama lebih tinggi dibanding media sosial. Kedua, kualitas konten media arus utama masih lebih baik daripada media digital apalagi media sosial. Ketiga, paparan hoaks di media arus utama lebih sedikit dibanding di media sosial.

Dengan adanya tiga nilai plus media arus utama tersebut, menumbuhkan fungsi media relations bagi PR tidak ada salahnya, karena akan meningkatkan reputasi perusahaan/organisasi. Meski klasik, cara ini tetap ciamik untuk ditiru.

Hak Jawab

Asmono menekankan bahwa menjalin kolaborasi dengan media arus utama bagi PR tidak hanya sekadar kebutuhan siaran pers semata. Lebih daripada itu, melalui lembaga pers, perusahaan ataupun organisasi dapat membangun citra positif, meningkatkan engagement, hingga membantu PR untuk mengelola krisis.

“Hubungan dengan media harus menjadi salah satu prioritas PR setiap saat karena media akan menjadi penolong ketika kita terkena krisis. Bergaullah dengan banyak media. Media profesional akan lebih menguntungkan perusahaan,” tutur Asmono. 

Sejauh ini, praktik media relations di Indonesia meliputi beberapa hal, di antaranya media visit, memelihara hubungan personal dengan jurnalis, mengedukasi jurnalis dengan isu spesifik, menyelenggaakan konferensi pers. Selanjutnya, mengatur door stop interview jurnalis dengan bos, membuat dan mengelola grup WA dengan jurnalis, memasang iklan di media, membaut dan mendistribusikan siaran pers, mengadakan media gathering, dan mengirim hak koreksi dan hak jawab.

Dalam kesempatan yang sama, Asmono sempat menyinggung mengenai mekanisme hak jawab yang penting dikuasai oleh PR/humas dan telah dijamin di UU No 40/1999 tentang Pers. Hak jawab berfungsi untuk menyanggah atau memberikan klarifikasi atas kesalahan konten pemberitaan yang dimuat oleh media dan bersifat merugikan perusahaan/organisasi.

Dalam membuat hak jawab, beberapa hal yang tidak boleh luput adalah menuliskan judul berita, tanggal dipublikasikan, sekaligus nama media yang bersangkutan, tentu dengan penegasan bahwa berita yang dimuat tidak benar. Selanjutnya, dalam hak jawab juga memuat penegasan, penjelasan, atau klarifikasi perusahaan akan kesalahan berita yang telah dimuat. Hak jawab seyogianya ditujukan kepada media yang membuat kesalahan pemberitaan dan ditembuskan ke Dewan Pers. (AZA)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas