Cara Bank Indonesia Merancang Komunikasi ‘Adem’ di Tengah Tantangan Ekonomi

Share post
Bank Indonesia memastikan isu ekonomi yang panas menjadi adem dan mudah dipahami oleh masyarakat (dok: Bisnis Indonesia)

Bank Indonesia telah merancang sejumlah strategi komunikasi untuk menyiasati tahun yang disebut-sebut penuh tantangan ini. Apa saja?

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Isu perekonomian selalu menjadi pembahasan hangat. Seperti kondisi perekonomian dunia yang melambat belakangan ini. Dilansir dari Tempo.co, sejumlah analis memperkirakan negara penggerak ekonomi utama dunia, termasuk Amerika Serikat, Inggris, serta Uni Eropa, tahun ini akan tergelincir ke dalam resesi. Hal tersebut dikarenakan bank sentral terus menaikkan suku bunga untuk meredam permintaan barang dan jasa konsumen dalam upaya untuk mengendalikan inflasi.

Pada Kamis (19/1/2023), Bank Indonesia (BI) juga menaikkan suku bunga acuan. Dilansir dari CNBC, jumlahnya mencapai 5.75 persen. Kenaikan suku bunga akan berdampak pada sektor perekonomian. Dikutip dari Kompas, nilai tukar mata uang rupiah akan menguat. Namun, kenaikan juga akan menaikkan tingkat bunga deposito dan bunga kredit pinjaman masyarakat.

Tiga Langkah BI

Untuk meredam situasi yang tengah “panas” tersebut, BI melakukan pendekatan khusus untuk berkomunikasi kepada masyarakat. Strategi ini disampaikan oleh  Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia Junanto Herdiawan di acara Corporate Communications Talks (4th Edition) bertajuk “Strategi Komunikasi yang Adem di Kondisi yang Panas”, Kamis (19/01/2023).

Junanto menjelaskan ada tiga langkah yang ditempuh pihaknya. Pertama, manajemen ekspektasi. Dilansir dari Project Management Institute, manajemen ekspektasi adalah upaya mengatur dan menjaga dugaan publik terhadap masa depan.

Dalam poin ini, Junanto mengatakan, BI berupaya menyampaikan informasi dengan narasi positif. Pesan tersebut kemudian disampaikan melalui banyak kanal secara konsisten. Mulai dari media sosial, mengadakan konferensi pers, merilis siaran pers, dan menghadiri focus group discussion.

Terhadap berbagai isu terkini seperti tantangan ekonomi dan resesi, BI optimistis ekonomi nasional, yakni sistem finansial dan pasar akan tumbuh dan pulih seperti sedia kala. “Jadi, optimis, tapi waspada. Inilah pesan yang kami coba sampaikan kepada publik,” ucapnya.

Langkah kedua, mengelola kemampuan literasi. Junanto menyadari isu ekonomi terkadang sulit dipahami. Sehingga, untuk meningkatkan pemahaman publik, ia beserta jajarannya berupaya untuk mengedukasi masyarakat dengan menghadirkan berbagai i konten kreatif di media sosial dan bahasa sederhana yang mudah dicerna. “Bahasa perekonomian yang identik dengan bahasa ”langitan” akan kami coba “turunkan” ke bumi,” katanya.

Sementara langkah ketiga, bersikap transparan. Junanto mengatakan, saat ini BI sudah menjelma menjadi lembaga yang sangat terbuka. Secara rutin, BI menghadirkan laporan bulanan, triwulan, laporan audit, dan lain sebagainya. Semua informasi tersebut, tambah Junanto, bisa diakses oleh publik 24 jam.

Ketiga langkah tersebut kemudian dikalibrasi dan dirancang dengan rapi oleh BI sebelum disampaikan kepada masyarakat. “Pemahaman publik adalah pertimbangan utama kami dalam berkomunikasi,” pungkasnya. (SGS)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas