Kekuatan Storytelling dan Kolaborasi

Share post
Ilustrasi kolaborasi dalam public relations. Foto: Pexels

Storytelling dan berkolaborasi jadi cara ampuh bagi praktisi humas dalam mengomunikasikan program perusahaan.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Kompetensi humas atau public relations (PR) di tengah gempuran digitalisasi membawa profesi ini untuk terus belajar. Banyak kompetensi dapat diasah seorang humas, sebagaimana dijelaskan oleh Maria Wongsonagoro, Selasa (20/9/2022), kepada HUMAS INDONESIA melalui komunikasi WhatsApp.

Menurutnya, kompetensi atau skills itu disesuaikan dengan jenjang praktisi kehumasan. Namun, tak dimungkiri ada dasar skills yang mesti dikuasai agar dapat menunjang peran kehumasan. Tiga yang utama di antaranya understanding public relations, kemampuan berkomunikasi kepada khalayak, dan pemetaan pemangku kepentingan.

Selanjutnya humas dapat mempelajari analisis survei persepsi audiens, mengomunikasikan strategi komunikasi kepada tim, serta membangun reputasi. Membangun reputasi membutuhkan komposisi kemampuan yang tak main-main. Sebagaimana yang dijelaskan Maria, humas perlu menyelami relasi media, baik media konvensional maupun media baru.

Ketika humas harus mengomunikasikan program-program perusahaan kepada publik, salah satu cara yang efektif adalah menggunakan teknik bercerita. “Storytelling merupakan salah satu cara tersebut. Dengan dasar pemahaman yang baik, praktisi PR atau kehumasan perlu mengembangkan communication skills, antara lain, kemahiran dalam storytelling untuk penyampaian pesan yang lebih efektif,” ujar perempuan yang menjabat President Director of IPM Public Relations ini.

Selain kemampuan itu, ia menyebutkan humas selanjutnya dapat memoles kemampuan dalam memanajemen isu dan krisis. Serta menguatkan kemampuan dalam tanggung jawab sosial dan pemberdayaan komunitas. Ketiganya berkaitan erat dengan kebutuhan dan tren saat ini. Dalam mewujudkan kinerja humas yang lebih baik, berkolaborasi juga dapat menjadi pilihan.

Hal yang perlu diperhatikan dalam menginisiasi kolaborasi yaitu memperhatikan keselarasan nilai yang dianut antarpihak. “Perlu sedikit riset mengenai siapa, pihak mana yang akan diajak kolaborasi, apakah visi, misi, nilai-nilai sama, apakah rekam jejak mereka baik, apakah kegiatan atau program kolaborasi relevan dengan rencana strategis perusahaan atau instansi,” sebutnya.

Penuturan Maria ini sejalan dengan publikasi berjudul Digital Image: Collaborating Effect Of New Media And Public Relations tahun 2015, yang diterbitkan oleh Konferensi Nasional Ilmu Sosial dan Teknologi. Dijelaskan bahwa ruang digital memberi dampak media dan profesi kehumasan. Akhirnya humas berkembang mengikuti kebutuhan publik, utamanya dalam panggung media baru. Pembentukan citra maupun reputasi tidak lagi menjadi hak istimewa humas, tetapi berkembang menjadi salah satu bentuk kekuatan publik. Sehingga kolaborasi antarpihak dapat menjawab kebutuhan tersebut.

Dukungan bagi Organisasi

Manfaat menjalin hubungan ini juga diperkuat oleh Moch Arief Cahyono, Kabag Humas Kementerian Pertanian. Menurutnya humas punya tugas membangun persepsi positif stakeholder terhadap organisasi. Maka penting membina hubungan baik dan berkolaborasi dengan pemangku kepentingan. Langkah yang dirinya biasa lakukan terbagi menjadi empat.

Pertama, mengenali dan memetakan stakeholder sesuai dengan tingkat kepentingan dan pengaruhnya terhadap organisasi. Kedua, membangun dan memfasilitasi komunikasi rutin antara organisasi dengan stakeholder, terutama yang berada pada kelompok tingkat kepentingan dan pengaruh tinggi. “Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah membuat group chat khusus sehingga memudahkan koordinasi atau komunikasi informal,” jelasnya melalui WhatsApp kepada HUMAS INDONESIA, Selasa (20/9/2022).

Arief menjelaskan langkah selanjutnya adalah mengadakan agenda berkala dengan kelompok stakeholder. Bentuk kegiatan yang dikemas bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan karakteristik pemangku kepentingan yang sudah lebih dulu dipetakan humas.

Terakhir, mengajak stakeholder dalam kegiatan-kegiatan organisasi. Keterlibatan atau partisipasi aktif stakeholder dalam kegiatan organisasi bisa meningkatkan dukungan terhadap upaya organisasi mencapai visi dan misinya. (RES)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas