Komunikator Terbaik Perlu Persiapan yang Apik

Share post

Mengidentifikasi isu secara jujur, sikap yang baik, dan kemampuan mendengar menjadi andalan humas sebagai komunikator yang sukses di hadapan media.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Komunikasi senantiasa sebagai `tersangka` pada terganggunya proses pengiriman pesan berdasarkan pengirim (komunikator) ke penerima (komunikan). Perusahaan atau instansi perlu menguji seberapa tepat komunikator yang dipilih untuk merepresentasikan perusahaan di mata publik. Sebagian besar kecemasan komunikasi perusahaan dihasilkan dari humas yang tidak percaya diri dengan keterampilan komunikasi yang dimiliki. Salah satu solusi untuk mengatasi kecemasan ini adalah dengan meningkatkan kemampuan komunikasi Sobat HUMAS INDONESIA.

Isu ini menghangat dalam inhouse training yang diselenggarakan PT PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bertajuk “Pelatihan Media Handling untuk Memperkuat Reputasi Korporat” di Ciawi, Bogor pada Selasa (5/4/2022). Dalam acara yang berlangsung secara hibrida ini, para peserta yang hadir merupakan direktur dan GM cabang ASDP seluruh Indonesia mulai dari media lanskap sampai praktik ketika berhadapan dengan media.

Ira Puspadewi, Direktur Utama ASDP mengatakan humas harus selalu  siap untuk berinteraksi dengan awak media, terutama pada hari besar. Ira percaya bahwa kemampuan mengelola hubungan media adalah keterampilan mutlak yang harus dimiliki Sobat HUMAS. "Setiap kali bertemu media, jangan biarkan mereka berkreasi dengan cerita mereka sendiri. Sebaliknya, kita  harus menciptakan cerita kita sendiri," ujar Ira.

Dalam buku How to Talk to Everyone, Anytime, Anywhere, Larry King berusaha membagikan  beberapa prinsip dasar yang dapat diterapkan Sobat HUMAS INDONESIA untuk menjadi komunikator yang baik sebelum berhadapan dengan media. Komunikasi adalah tentang menyampaikan pesan, jadi komunikasi harus dimulai dengan kejujuran. Komunikator yang baik adalah komunikator yang menyampaikan pesan komunikatif kepada stakeholders. Kedua, memiliki sikap yang baik sebagai syarat untuk  berbicara dengan pemangku kepentingan. Jika Sobat HUMAS masih takut atau ragu, disarankan untuk berlatih setiap kali agar terbiasa. Terakhir, menjadi pendengar yang baik dalam menciptakan dialog dua arah dan mampu untuk mendengarkan dengan cermat apa yang diinginkan media.

Founder dan CEO PR INDONESIA Group, Asmono Wikan sependapat. Menurutnya, ada tiga alasan yang menjadikan praktik media relations penting bagi perusahaan.  Faktanya, ia melanjutkan, lebih dari 50 persen praktik media relations di Indonesia masih sebatas menjaga hubungan baik dengan jurnalis dan media.  Contoh, kunjungan media, mengadakan konferensi pers, pertemuan dengan media, membuat dan mendistribusikan siaran pers, atau memasang iklan. Sementara itu, founder CPROCOM sekaligus dosen Universitas Mercu Buana, Emilia Bassar yang juga berbicara di forum yang sama, menitikberatkan pada pentingnya Sobat HUMAS INDONESIA memiliki kemampuan mengidentifikasi isu.

Acara yang turut dihadiri oleh Sekretaris Perusahaan ASDP Shelvy Arifin ini juga menghadirkan Wakil Pemimpin Redaksi Kompas TV Yogi Arief Nugraha dan Managing Editor Kompas TV Zaki Amrullah. (akn)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas