Langkah Ajib Hasilkan Konten Ajaib

Share post
Arya Gumilar, Founder BAYK Strategic menyampaikan materi di acara inhouse training Angkasa Pura II di Gedung Airport Construction Division, Jakarta, Jumat (4/11/2022). Foto: Dok. Pribadi

Public Relations (PR) perlu cara jitu mengelola media sosial perusahaan di era disrupsi.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Sebelum membuat konten di media sosial sebuah korporasi, perlu dilakukan analisis panjang. Terlebih jika konten yang akan dipublikasikan tersebut bertujuan sebagai kampanye digital suatu perusahaan. Hal ini disampaikan oleh Arya Gumilar, Founder BAYK Strategic Sustainability ketika menjadi narasumber dalam acara inhouse training Angkasa Pura II di Gedung Airport Construction Division, Jakarta, Jumat (4/11/2022).

Kegiatan inhouse training tersebut diselenggarakan atas kerja sama PT Angkasa Pura II (Persero) dan HUMAS INDONESIA yang berlangsung selama dua hari, Kamis hingga Jumat (3-4/11/2022). Bertajuk “Social Media and Journalist Behind the Curtain”, kegiatan ini menghadirkan dua narasumber lain. Mereka adalah Asmono Wikan (CEO HUMAS INDONESIA), dan Nugraha Andaf (CEO Andaf Corporation).

Menurut Arya, era disrupsi telah memunculkan tantangan besar bagi para praktisi public relations (PR). Segala teori dan praktik berkomunikasi, pemasaran, dan aspek lainnya perlu dikaji ulang. Langkah PR seperti membuat rilis yang dahulu dianggap manjur, kini sudah usang. “Kita perlu menarik agak jauh tentang dunia yang mengalami era disrupsi. Jalan yang ditempuh bisa jadi sama, tetapi hasilnya akan berbeda di tiap korporasi. Metodologi komunikasi, manajemen, bidang lainnya yang dulu dianggap sahih, sekarang mulai dipertanyakan ulang,” jelasnya saat memaparkan topik “Understanding Audiences in Digital Era” di hadapan 40 peserta.

Ditambah dengan adanya transformasi digital, mau tidak mau praktisi humas harus beradaptasi. Menyajikan konten di media sosial bak makanan sehari-hari bagi mereka yang memilih berkarier sebagai komunikator perusahaan. PR juga dituntut untuk menjadi kreatif agar konten-konten yang dihasilkan mampu bersaing dengan konten dari perusahaan kompetitor. Tidak penting jenis kamera dengan spefisikasi yang mahal, lighting yang memukau, editing yang membahana, Arya justru menyarankan agar perusahaan dapat memproduksi konten yang apa adanya dan tidak sempurna.

“Banyak korporat yang punya masalah sama. Kontennya tidak seberhasil UMKM yang bahkan tidak didukung dengan peralatan mumpuni tetapi jauh lebih efektif. Karena marketnya sudah berubah, konten yang justru relate dengan kehidupan publik sehari-hari dan menghindari kesempurnaan lebih menarik perhatian,” jelasnya.

Arya mencontohkan teknik berkonten produk skincare dengan menggunakan talent yang flawless, cantik, putih sekarang sudah tidak digemari oleh publik. Lebih efektif apabila pengiklanan tersebut dilakukan dengan vlog dimulai sejak bangun tidur hingga melakukan aktivitas sehari-hari. Misalnya konten “A Day in My Life” yang kini disukai oleh pengguna aplikasi Tiktok.

Seni Membuat Konten

Riset menjadi kunci dalam membuat konten. Arya menunjukkan bahwa media sosial memberikan banyak manfaat untuk PR menganalisis produk dan audiens-nya. Dengan beragam fitur yang ada seperti infografis viewers, jumlah like, hingga tren yang muncul, PR dapat mengevaluasi strategi komunikasi yang sudah berjalan. Dari data-data tersebut, penting bagi PR untuk dapat memahami insight yang mengandung nilai unik.

“Apa yang diinginkan oleh publik, kita gali insight-nya. Ini butuh intuisi dan perlu dilatih. Lalu cari hal unik apa yang menarik, kemudian kita kembangkan,” ungkapnya.

Tidak hanya melakukan riset, PR juga harus membangun personality media sosial perusahaan. Misalnya konsisten membuat konten lucu, inspiratif, dan lain-lain. Objektif juga menjadi aspek yang tidak bisa dialihkan. Penting untuk PR mengetahui tujuan konten tersebut dibuat. “Jangan buat objektif tujuan kontennya untuk penjualan. Harus lebih mengerucut lagi,” tegas Arya ketika memberikan tips berkonten di media sosial untuk korporasi.

Setelah melakukan riset, mengetahui target audiens, hingga tujuan dari konten yang dibuat, PR harus mulai memikirkan apa yang hendaknya dikatakan dalam konten. Barulah kemudian mencari cara terapik dalam mengemas konten tersebut, serta menunjukkan keterikatan dengan audiens.

“Berkah media sosial untuk korporat bukan karena mampu membuat pesan tersebar lebih cepat, bukan pula karena mampu menihilkan jarak, apalagi karena kampanye yang bisa dilakukan dengan murah. Manfaat yang justru harus dikejar adalah karena internet mampu menciptakan ruang dialog antara korporat dan publik,” pungkasnya. (AZA)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas