Media Sosial: Musuh atau Kawan?

Share post
Kehadiran media sosial memberikan warna tersendiri bagi praktisi humas pemerintah

Media sosial bagai dua sisi mata pedang. Keberadaannya di satu sisi memberikan kemudahan untuk mendapatkan informasi secara cepat. Di sisi lain, menjadi wadah penyebaran hoaks.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Kehadiran media sosial memberikan warna tersendiri bagi praktisi humas pemerintah. Sebab, dari sekian banyak manfaat yang diberikan, ternyata media sosial juga menjadi wadah beredarnya informasi yang mengandung unsur hoaks, post-truth, hingga ujaran kebencian.

Isu inilah yang mencuat saat Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik Dinas Kementerian Komunikasi dan Informatika Lombok Barat Arif Rachman mengisi kuliah tamu Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara daring, Selasa (7/6/2022).

Bahkan, kata Arif, jumlah informasi yang mengandung berita bohong makin meningkat ketika pandemi COVID-19. Pemicunya karena media sosial menjadi satu-satunya cara untuk bisa terhubung dengan dunia luar di tengah kebijakan dari pemerintah agar lebih banyak beraktivitas dari rumah.  

Kondisi ini sudah pasti membuat tugas humas makin menantang, tak terkecuali humas pemerintah. Hal ini dikarenakan instansi/organisasi menjadi rentan berhadapan dengan krisis. Percepatan informasi digital ini juga menimbulkan pengaruh yang buruk. Di antaranya, berita bohong, penyebaran berita palsu dan konten yang kurang pantas,” ujar Arif.

Ia melanjutkan, “Oleh karenanya, kita harus bertindak bijak dalam meneruskan informasi,” katanya. Sebab, langkah tersebut merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran berita palsu ke publik.

Nah, jika dilihat dari sisi pemerintah, maka salah satu cara untuk menekan penyebaran hoaks dan mengantisipasinya adalah dukungan sumber daya manusia yang cakap. “Sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam menyukseskan program kehumasan. Termasuk untuk memangkas laju peredaran kabar bohong seputar pemerintah daerah,” katanya.

Apalagi di era digital ini, humas pemerintah dituntut untuk selalu informatif dan inovatif dalam mengomunikasikan program komunikasinya. Hal ini dikarenakan humas berperan vital dalam menyebarluaskan informasi dan membangun kepercayaan publik. “Humas pemerintah perlu bertransformasi untuk dapat menarik perhatian dan mengedukasi masyarakat, termasuk kaum milenial,” ujarnya seraya menekankan humas tidak boleh bohong. Sebaliknya, perlu meningkatkan kreativitas karena mengelola komunikasi adalah seni. (akn)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas