Mengomunikasikan CSR

Share post
Ilustrasi public relations. Foto: Pexels

Penerapan CSR tak hanya dilihat dari hasil, tetapi juga proses perusahaan dalam pemetaan pemangku kepentingan.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID - Dalam mewujudkan kepercayaan publik, keterlibatan masyarakat jadi satu aspek yang butuh perhatian perusahaan. Peran humas kemudian tak hanya menampung aspirasi berbagai pemangku kepentingan, tetapi juga menelusuri program organisasi agar dipahami dengan baik. Salah satu upayanya adalah dengan mengoptimalkan penerapan corporate social responsibility (CSR).

Melalui standar ISO 26000, CSR mencakup tujuh prinsip. Di antaranya akuntabilitas, transparansi, perilaku etis, penghormatan kepada kepentingan stakeholder, kepatuhan terhadap hukum, penghormatan terhadap perilaku internasional, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Manfaat yang didapat perusahaan dari menjalankan program CSR mulai dari peningkatan hubungan stakeholders, peningkatan daya saing dan reputasi, hingga peningkatan moral dan produktivitas karyawan. Itu pula yang disampaikan Noke Kiroyan, Chairman Kiroyan Partners pada Rabu (14/9/2022) kepada HUMAS INDONESIA. Meski memiliki beragam manfaat, tetapi penerapan CSR dikembalikan kepada komitmen dan value perusahaan. Akhirnya CSR kerap memiliki tantangan dalam dinamikanya.

Pria yang akrab disapa Noke ini pun menjelaskan bahwa perluasan dampak yang ditimbulkan seyogianya sejalan dengan perkembangan perusahaan. Program CSR, agar dapat dirasakan dampaknya, haruslah mengedepankan pemetaan stakeholder supaya tidak salah sasaran. Sejatinya penerapan CSR memang tak lantas dapat dirasakan semua masyarakat. Tetapi dengan komitmen laporan keberlanjutan perusahaan, misalnya, perusahaan dapat bertanggung jawab dan mengomunikasikan publikasi CSR tersebut secara berkala untuk meraih akuntabilitas.

“Karena perusahaan tidak bisa disuruh bertanggungjawab untuk semua manusia, namun sebaiknya dapat melakukan (program) yang mengurangi dampak kegiatannya melalui para stakeholder. Oleh karena itu penting melihat siapa stakeholder kita,” ungkapnya.

Pemetaan pemangku kepentingan, menurutnya juga berfungsi untuk melihat irisan kelompok yang paling berdampak untuk perusahaan dan sebaliknya, aktivitas perusahaan paling berdampak untuk kelompok apa saja. Sehingga perusahaan mengetahui arah gerak, bentuk program yang ideal, hingga melihat kebutuhan dan tren saat ini.

Pemetaan pemangku kepentingan atau stakeholder mapping ini menjadi rangkaian proses identifikasi, pemetaan, hingga penentuan prioritas. Lewat cara ini, humas dapat menentukan teknik dan instrumen komunikasi untuk setiap stakeholder yang ingin dituju, sehingga berpotensi menghasilkan komunikasi yang efektif.

CSR dan Reputasi

Mengomunikasikan CSR juga butuh strategi. Humas perlu menganalisis tiga komposisi pembentuk reputasi ala Doorley dan Gracia (2015). Komposisi itu memuat aspek kinerja, perilaku, dan komunikasi organisasi. Noke menuturkan, ketiga aspek ini harus dipahami oleh humas dalam mengomunikasikan program CSR perusahaan. Ketika komposisinya tidak seimbang, maka kredibilitas perusahaan akan dipertanyakan dan bakal merusak reputasi.

Ia menegaskan, “Tiga unsur itu harus ada untuk membentuk reputasi. Kalau kinerja tidak baik, perilaku tidak mendukung, arogan misalnya, tentu reputasi perusahaan tidak baik. Kinerja dan perilaku baik tetapi tidak berkomunikasi, tidak ada yang tahu upaya perusahaan, tidak akan terbentuk reputasi juga.”

Setelah berhasil melakukan analisis, humas dapat mengelola umpan balik yang didapat baik melalui interaksi nyata atau maya, sebagai bahan perbaikan. Humas berperan penting untuk mengomunikasikan nilai yang dibawa perusahaan lewat agenda-agenda CSR secara internal dan eksternal. Pasalnya keberlanjutan perusahaan tak sekadar masalah yang akan dihadapi humas, tetapi juga manajemen tingkat atas hingga karyawan.

Bagi Tommy Johan Agusta, Vice President Corporate Communications Pupuk Kaltim (PKT), kepada reporter HUMAS INDONESIA, Kamis (15/9/2022), komunikasi yang intens kepada stakeholder jadi kunci agar rasa kepemilikan timbul. Peran humas adalah mengomunikasikan berbagai program CSR ini dengan intens.

Setidaknya terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan perusahaan dalam membangun interaksi kepada masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan. Pertama, membuka diri terhadap ide yang masuk dari masyarakat. Kedua, mendukung pengembangan komunitas masyarakat di bidang tertentu. Ketiga, melakukan pemantauan dan diskusi rutin bersama masyarakat. Keempat, mengevaluasi kinerja dan hasil kolaborasi perusahaan dan masyarakat untuk pemberdayaan.

Saat mengimplementasikan program-program CSR, tentu dirinya sebagai praktisi humas menghadapi kendala dan tantangan. “Kami harus mengupayakan agar penerima manfaat bisa mempertahankan dan memelihara program itu sehingga tetap berkelanjutan. Karena banyak juga kegiatan CSR yang seharusnya bisa dilaksanakan kontinyu, tapi berhenti ketika orang yang terlibat di dalamnya tidak lagi fokus di bidang itu,” ujarnya.

Tak sekadar program CSR, melalui kegiatan rutin, perusahaan juga dapat memicu partisipasi publik. Salah satu caranya dengan menggaet lintas kelompok, seperti UMKM, perangkat daerah, dan pelibatan pemerintah kota. Interaksi yang terjadi secara berkala ini menurutnya akan membantu pelaksanaan CSR menjadi lebih mudah, karena masyarakat bertindak aktif.

Efek Domino

Menurut Kotler & Nance pada 2005, dalam jurnal Corporate Social Responsibility (CSR: Tinjauan Teori dan Praktik di Indonesia), CSR didefinisikan sebagai komitmen korporasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui kebijakan praktik bisnis dan pemberian kontribusi sumber daya korporasi. 

Pada jurnal tersebut juga menegaskan bentuk-bentuk tanggung jawab sosial yang ideal bukan hanya muncul semata-mata untuk mencari nama baik, tetapi dapat muncul sejak sebuah organisasi berdiri. Keberhasilan organisasi dalam menjalankan tanggung jawab sosial akan memberikan efek domino bagi organisasi lain. Sebab terdapat pengaruh positif yang akan dipetik dari komitmen perusahaan dalam menerapkan CSR yang ideal sebagaimana standar yang ditetapkan.

Apakah perusahaan atau organisasi Anda sudah menerapkan CSR dengan baik? (RES)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas