Mengukur Keberhasilan Komunikasi Persuasif

Share post
Ilustrasi komunikasi persuasif. Foto: Dok. Tribunnews.com

Layaknya pistol bagi polisi, komunikasi adalah senjata yang harus dimiliki oleh praktisi humas.

YOGYAKARTA, HUMAS INDONESIA.ID – Komunikasi persuasif memiliki peran yang sangat penting untuk aktivitas public relations (PR). Kadangkala, humas memiliki banyak program dan kampanye sebagai sarana mencapai tujuan perusahaan. Kampanye tersebut harus dapat disalurkan dengan baik melalui strategi komunikasi yang baik, sekaligus komunikasi persuasif juga harus tepat dilakukan.

Dilansir dari ayobandung.com yang diakses Selasa (20/9/2022), komunikasi persuasif bagi humas tidak hanya sekadar menyampaikan informasi tetapi juga terdapat aspek membujuk, merayu, dan meyakinkan masyarakat.

Dedy Djaaluddin Malik, dkk menyebutkan dalam bukunya Komunikasi Persuasif (1994), menyebutkan keberhasilan persuasif ditentukan oleh terbentuknya hubungan antara sasaran persuasif dengan faktor motivasional, yakni hubungan kontigensi, hubungan kategorisasi, persamaan, dan konsidental.

Menurut Emilia Bassar, CEO Center for Public Relations, Outreach and Comunication (CPROCOM), meyakinkan masyarakat tidak cukup hanya dengan mengubah gagasan dan pola pikir. Bahkan kadang hingga mengubah perilaku kebiasaan dari publik. “Meyakinkannya itu bisa berdasarkan ide, gagasan, pola pikir, atau barangkali perubahan perilaku,” ujarnya ketika dihubungi oleh HUMAS INDONESIA, Selasa (20/9) melalui saluran telepon.

Emilia mencontohkan langkah komunikasi persuasif yang ia pakai ketika berusaha mengajak masyarakat pesisir untuk tidak membuang sampah sembarangan karena dapat merusak lingkungan dan ekosistem pantai. Ia menjelaskan, sebelum memberikan narasi persuasif kepada publik, humas harus melakukan riset mendalam agar masyarakat mengerti sudut pandang yang disampaikan oleh perusahaan. Tidak menutup kemungkinan, proses komunikasi persuasif membutuhkan pihak ketiga, misalnya tokoh agama dan tokoh adat yang dirasa “lebih dekat” dengan masyarakat, target komunikasi persuasif tersebut dijalankan.

Ada tiga cara yang dilakukan untuk menyampaikan komunikasi persuasif, di antaranya: convincing, aktualisasi, dan stimulasi. Convincing berarti meyakinkan publik (audiens) untuk dapat mempercayai sudut pandang dan gagasan humas dan perusahaan. Aktualisasi mengandung makna agar publik (audiens) mulai mengambil tindakan atas perilaku tujuan yang diinginkan humas. Adapun stimulasi merujuk pada dorongan yang dilakukan oleh humas untuk membuat publik memiliki mindset sesuai dengan yang diinginkan humas.

Ukur Keberhasilan

Stimulasi bisa dengan cara menyuguhkan pertanyaan-pertanyaan supaya audiens mulai berpikir bahwa perilaku mereka kurang tepat. Membangun pertanyaan-pertanyaan kritis tapi ringan dan relevan dengan yang audiens hadapi, juga sangat dibutuhkan dalam komunikasi persuasif.

“Jangan sampai setelah melakukan komunikasi persuasif, kita beranggapan bahwa yang penting sudah berusaha bicara, lalu bersikap masa bodoh tentang hasil dampak komunikasi itu,” lanjut Emilia mewanti-wanti.

Cara mengukur keberhasilan komunikasi persuasif yang dilakukan oleh humas bisa dilakukan dengan survei dan observasi. Melaksanakan survei maupun observasi harus berlangsung setelah tenggat waktu tertentu. Komunikasi persuasif dianggap berhasil apabila audiens hingga dalam kurun waktu tersebut tetap memiliki gagasan ataupun berperilaku seperti yang diharapkan oleh humas yang mewakili perusahaan dan lembaga. Tahapan evaluasi juga penting, terlebih apabila komunikasi persuasif yang dilakukan oleh humas dianggap tidak berhasil. (AZA)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas