Pemetaan Ekosistem Pers, Media Arus Utama Jadi Sorotan

Share post

Media arus utama populer di mata publik sebagai sumber informasi aktual. Bagaimana humas bereaksi terhadap media ini?

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Pers adalah lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik. Sementara media merupakan alat atau platform dari produk berupa konten atau informasi yang tidak selalu bermakna sebagai produk atau lembaga pers.

Sobat HUMAS sudah seharusnya tanggap memahami perbedaan pers dengan media. Sebab, pers senantiasa identik dengan jurnalis yang teratur dan berpedoman pada Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Begitu pun lembaga pers layak memiliki newsroom. Seperti termuat dalam Undang-Undang Pers pasal 15 ayat 1, dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional, dibentuk Dewan Pers yang independen.

Hal ini dimaklumatkan juga oleh Asmono Wikan, CEO HUMAS INDONESIA dalam Workshop Series Government Public Relations (GPR) yang digelar oleh HUMAS INDONESIA di Yogyakarta, Rabu (27/7/2022). “Dewan Pers bukanlah pembela pers tapi pembela kemerdekaan pers,” tuturnya.

Sejak undang-undang tersebut diresmikan, ekosistem pers di Indonesia yang terdapat istilah-istilah baru. Di antaranya media arus utama atau mainstream media untuk menunjuk lembaga pers yang memiliki pengaruh besar di tengah publik. Seperti Kompas.com, Kumparan, Detik.com, Republika, Bisnis Indonesia, Liputan6, dan MetroTV.

Pria yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pers ini mengungkapkan bahwa media arus utama muncul karena jumlah pembaca atau traffic pengunjung yang tinggi. Tidak menutup kemungkinan pula dikarenakan reputasi merek yang sudah lama dan hingga kini tetap kuat di mata publik. Hal ini menuntut mainstream media untuk merilis berita yang akurat.

Di sisi lain, ada juga istilah media tier untuk memosisikan keberadaan lembaga pers di pasar. Misal, hampir semua media arus utama nasional (yang berbasis di Jakarta), masuk dalam kategori media tier 1. Demikian juga media lokal yang sudah begitu lama beroperasi dan dikenal luas publik setempat, dikategorikan sebagai media tier 1 lokal. Sungguh pun demikian, tidak ada konsesus permanen yang menyangkut penyebutan media tier.

Alhasil, Sobat HUMAS perlu mengoptimalkan sisi positif media arus utama karena kepercayaan publik lebih tinggi terhadap media ini. Sebab, public menilai dari kualitas kontennya yang diyakini lebih baik dan paparan hoaksnya lebih sedikit dibanding media digital. (akn)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas