Penuhi Dua Unsur Ini Saat Bercerita Lewat Video

Share post

Saat ini video menjadi media populer untuk berkomunikasi dengan audiens. Perlu dua unsur agar dapat berkomunikasi/bercerita lewat video. Apa saja?

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA – Menurut videografer profesional Abietya Sakti Narendra perlu dua perpaduan yang proporsional untuk dapat bercerita (storytelling) lewat video. “Dua unsur itu adalah penguasaan teknik videografi dan riset praproduksi,” katanya saat menjadi pembicara di diskusi virtual yang diselenggarakan Terang Studios bertajuk “#BrighterDays Class: Social Media A to Z”, Rabu, (17/6/2020).

Pertama-tama, katanya, pahami dulu kerangka teknis video. Video yang bagus dimulai dari establishing shot. Yakni, scene awal yang menjadi pendahuluan. “Biasanya, bercerita tentang gambaran besar isu atau tema yang kita angkat,” katanya. Selanjutnya, A-roll, jalinan cerita yang menjadi komponen inti video.

Melengkapi A-roll, ada B-roll. Yaitu, shot pendukung. “Biasanya berupa beauty shot yang menyajikan visual pendukung penyampaian pesan,” katanya. Ia melanjutkan, “Yang paling berperan dalam pembuatan B-roll dalah pemilihan angle dan movement kamera,” ujarnya.

Setelah semua gambar didapatkan, masuk ke proses editing. Pada proses ini akan ada yang namanya transisi, backsound, opening bumper break (OBB), closing bumper break (CBB), visual effect, hingga sound effect sesuai kebutuhan dan konsep video.

 

“Storytelling”

Lantas, bagaimana caranya pembuat video memastikan karyanya mampu bercerita dan menyampaikan pesan dengan baik?  “Kuncinya, harus dipastikan sejak dari proses praproduksi,” kata pria yang akrab disapa Abiet ini.

Ketika sudah memilih tema, pastikan untuk melakukan riset. Pahami sasaran audiens, pastikan 5W+1H (what, who, why, when, where, how). Menurutnya, awali dengan mencari kenapa (why). “Dari sini kita bisa mendapat jawaban, menggali lebih dalam dan mempermudah kita membentuk alur cerita,” ujarnya.

Setelah menguraikan seluruh komponen 5W1H, lanjutkan dengan membuat skenario (script) video. “Script harus diuraikan lagi menjadi konsep visual dengan moodboard dan storyboard,” katanya berpesan. Ketika konsep substansi dan visual sudah matang, mulailah merencanakan proses produksi mulai dari mencari talent yang cocok hingga membuat susunan kegiatan (rundown).

Saat memasuki proses produksi, pastikan seluruh komponen teknis terpenuhi dan perencanaan yang sudah disusun berjalan lancar. Selain itu, videografer juga perlu memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan realitas di lokasi.

“Pandai-pandailah membaca ekspresi, kondisi lingkungan sekitar, hingga karakter setiap orang yang terlibat dalam proses produksi ini,” katanya. Abiet meyakini, kepekaan seorang videografer akan membuatnya mampu  melihat dari berbagai sudut pandang/perspektif yang bermanfaat untuk memperkaya penyajian konsep. Lainnya tak kalah penting, memiliki kemampuan videografi. “Salah satu kelebihan videografi dibandingkan media storytelling lainnya adalah fleksibilitas,” katanya.

Menurut Abiet, dalam membuat video bisa dimulai dari alat yang kita miliki dan sederhana. Contohnya, kamera ponsel. “Yang penting kumpulkan dulu shot sebanyaknya. Kumpulkan hasilnya yang menurut kita memiliki kualitas terbaik. Ambil A-roll dan B-roll dengan proporsi yang seimbang,” ujarnya.

Sementara proses meracik bahan bisa dilakukan secara fleksibel, ditata kembali dan diperindah saat proses editing. “Tentu, saat mengedit kita harus menyesuaikan antara durasi dan resolusi video dengan saluran yang akan kita pilih sebagai media publikasi,” katanya. Alasannya, setiap media publikasi punya keuningan masing-masing. Contoh, Instagram Story dan You Tube.  (den)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas