Peran dan Dampak PR di Masa Pandemi

Share post
Ibarat pertandingan sepak bola, PR harus menjadi pemain. PR bukan pelatih apalagi komentator yang hanya sibuk mengomentari permainan. Dok. Istimewa

 

Pandemi yang terjadi di era digital ini membuat  informasi sangat mudah didapatkan dan disebarkan. Namun tidak semua informasi yang beredar itu benar. Bahkan beberapa cenderung meresahkan. Dalam kondisi seperti ini, peran praktisi PR sangat penting untuk menyampaikan informasi ke masyarakat guna turut serta membangun narasi yang positif. 

 

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Hasil riset Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJ) menunjukkan 69 persen orang di masa pandemi mengalami permasalahan psikologis, 68 persen mengalami kecemasan, 67 persen mengalami depresi, serta 77 persen mengalami trauma psikologi. 

Menurut Ketua Umum BPP PERHUMAS Agung Laksamana, kondisi pandemi penuh dengan ketidakpastian (uncertainty) dan berbagai hal yang tidak bisa kita kontrol. Belum lagi banjir informasi, termasuk informasi yang mengandung unsur hoaks, kian memperkeruh keadaan. “Sebagai praktisi PR, kita harus fokus pada hal-hal yang bisa kita kontrol dan kelola,” katanya dalam gelar wicara bertajuk Lifestyle, Immune, and Germ: Healthy Lifestyles to Win Endless War, Sabtu (17/7/2021).

Berangkat dari kondisi itu, PERHUMAS Muda menginisiasi kampanye #PerkuatDiriJagaNegeri. Lantas apa yang bisa dilakukan PR, khususnya PR muda? Agung mengatakan, kampanye ini adalah upaya untuk membangun kesadaran dan edukasi kepada generasi muda, sekaligus mengajak mereka untuk menjadi bagian menyukseskan upaya-upaya pemerintah dalam mengatasi pandemi. Minimal, tidak menciptakan silo-silo, menyampaikan informasi yang bersifat toksik, bahkan menjadi bagian dari jembatan pendistribusi hoaks. Sebaliknya, berkolaborasi membangun informasi yang positif dan memotivasi. 

Menurut Communications Director Rajawali Foundation Fardila Astari, sebagai profesi yang memiliki kompetensi melakukan perencanaan, kampanye yang baik, menangani krisis komunikasi, melakukan mitigasi, monitoring, hingga evaluasi, PR memang sudah sepatutnya turut andil mengatasi permasalahan sosial akibat pandemi yang sedang terjadi di masyarakat saat ini. “Sebagai PR, kita harus menunjukkan karakter baik dan mampu memberi contoh,” ujarnya. Ia melanjutkan "Kita adalah PR bagi diri sendiri, keluarga, perusahaan, dan organisasi kita.”

 

Bangun Narasi

Untuk itu, ia mengajak praktisi PR agar fokus pada narasi-narasi #IndonesiaBicaraBaik. Yakni, narasi yang membangun optimisme, namun tetap waspada. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh PR untuk menyukseskan strategi komunikasi nasional penanganan pandemi COVID -19. Antara lain, meningkatkan kepercayaan publik terhadap program vaksinasi. Misalnya, menyebarkan informasi soal keamanan dan efektivitas vaksin, apapun jenisnya. Lainnya, meningkatkan kepatuhan terhadap pesan-pesan kunci terkait pandemi COVID-19, seperti menerapkan perilaku 3M dan 3T. “Dengan catatan, pada saat menyebarkan informasi harus berdasarkan sumber-sumber kredibel,” ujar perempuan yang mengantongi sertifikat AMEC itu.

Adapun caranya, dengan melakukan komunikasi publik, memberdayakan masyarakat, meningkatkan kapasitas, melibatkan pemangku kepentingan, serta memahami konteks pesan. Selain itu, PR juga memiliki peran mengonter hoaks yang beredar di masyarakat, memahami target audiens yang disasar agar pesan yang disampaikan sesuai dengan karakter, tone, dan manner, serta memahami karakteristik media.

Jadi, katanya, ibarat pertandingan sepak bola, PR harus menjadi pemain. PR bukan pelatih apalagi komentator yang hanya sibuk mengomentari permainan. “Karena, hanya pemain yang akan menjadi pemenang,” tutupnya. (ais)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas