Sinergi PR dan Media di Masa Pandemi

Share post
Sebelum informasi tersebut sampai ke media, semestinya sudah jernih dari sumbernya. Dok. Istimewa

 

Situasi pandemi seperti sekarang ini membuat media dan PR perusahaan maupun humas pemerintah perlu responsif dan membangun sinergi untuk menyampaikan informasi dan berita yang kredibel dan berintegritas. Untuk itu, PR dan media perlu bekerja lebih teliti dan berhati-hati.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID - Di masa krisis seperti pandemi, PR memiliki peran yang sama seperti media. Salah satunya, sebagai clearing house. Pernyataan ini ditekankan oleh Presiden Direktur MetroTV Don Bosco Selamun pada acara webinar PERHUMAS bertajuk “What Media Wants from PR in the New Era and During Crisis”, Jumat (23/7/2021).

Menurutnya, sebelum informasi tersebut sampai ke media, terutama media arus utama, semestinya sudah clear dari sumbernya. Siapa itu? Mereka adalah PR. Langkah ini harus dilakukan dalam rangka untuk meraih kredibilitas. “Bukan saja kredibilitas informasinya, tapi juga perusahaan/instansi yang bersangkutan di mata publik,” katanya.   

Lainnya yang harus menjadi perhatian PR, terutama saat berada di situasi krisis seperti pandemi, di mata media adalah memastikan pendistribusian informasi atau pesan dilakukan dengan cara tepat dan melalui kanal yang relevan. Saat ini, terlebih semenjak seluruh aktivitas masyarakat dibatasi hanya melalui daring, manusia semakin digital native. Bahkan, sudah bergeser menjadi audiovisual. “Sebagian besar konsumen media digital adalah audiovisual,” ujarnya.

Manusia lebih mudah memahami pesan lewat audiovisual ketimbang tulisan. Ibaratnya, kemampuan manusia dalam memahami satu visual setara dengan 60 ribu kata.  Apalagi tingkat literasi masyarakat Indonesia tergolong rendah. Di satu sisi, rentang perhatian publik juga pendek, hanya delapan detik. Jika tidak menarik, mereka memilih pindah ke video atau informasi lain. Untuk itu, PR dituntut mampu mendistribusikan pesan/informasinya secara relevan. Salah satunya, tidak lagi mengirimkan rilis dalam bentuk tulisan, tapi juga video.

 

Saling Mendukung

Sementara Maria Y. Benyamin, Pemimpin Redaksi Bisnis Indonesia, menyoroti lima hal yang dibutuhkan media di kala pandemi. Pertama, pandemi melahirkan media baru, terutama menjamurnya media on-line. Mereka berebut perhatian, salah satunya melalui judul yang bombastis. Fenomena ini harus diwaspadai oleh PR. Kedua, saat ini media mengutamakan keselamatan dan keamanan para awak jurnalisnya. Untuk itu, sebisa mungkin di kala pandemi, mereka tidak menerjunkan wartawan ke lapangan, kecuali untuk hal yang sangat penting dan memiliki nilai berita tinggi.

Ketiga, harus ada persepsi yang sama bahwa media mengikuti kebenaran untuk membangun trust. Untuk itu, PR harus menyampaikan informasi yang benar untuk meraih trust dari publiknya. Salah satunya, melalui peran media. Keempat, media juga harus menjaga keberlanjutan usahanya. Maka, diperlukan kolaborasi.

Kelima, saat ini negara memerlukan media dan juga PR untuk sama-sama memberikan informasi yang jelas. “Jangan sampai masyarakat menjadi apatis. Sehingga, mereka tidak tahu dan tidak mau tahu berita yang benar karena selama ini sudah terlalu  banyak menerima berita yang tidak jernih,” katanya. “Kalau sudah begitu, bahaya buat negara,” ujarnya. Untuk itu, PR sebaiknya cepat merespons dan jangan menghindar ketika dihubungi wartawan. Sebab, keduanya memiliki peran yang sama: menyajikan informasi yang komprehensif dan kredibel bagi masyarakat.

Senada dengan Maria, Wakil Pemimpin Redaksi Kompas Tri Agung Kristanto berharap PR menyampaikan kebenaran dan bukan malah memperkeruh suasana.  Sementara Editor in Chief Kumparan Arifin Asydhad menyoroti perlunya dukungan PR terhadap media yang kredibel. “Betapa pun besarnya distorsi ditambah hoaks yang semakin marak, negara tetap membutuhkan jurnalisme,” katanya.

Maka, ia mengimbau agar PR menyampaikan informasi yang  kredibel, terutama kepada media yang juga kredibel. “Kita sedang ada di era di mana semua orang memfokuskan keinginan untuk mendapatkan pageviews setinggi-tingginya di media platform milik global yang datang ke Indonesia tanpa diskusi,” ujarnya. Kondisi tersebut mendorong standar jurnalis menjadi rendah. Sebab, untuk mengejar pageviews, media berlomba-lomba membuat judul yang menipu dan bombastis. Untuk itu, PR harus memetakan media kredibel untuk menjadi mitra yang perlu mereka dukung. “Dengan begini, PR berkontribusi mewujudkan media kredibel yang mendukung demokrasi,” tutupnya. (rtn)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas