Transformasi Digital, Kenapa Tidak? Ini Tahapannya!

Share post
Tugas utama PR tetaplah membuat, mengemas dan mengkreasikan konten.

YOGYAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Kesalahpahaman masyarakat mengenai humas digital yang sebatas mengelola media sosial masih sering ditemui. Padahal, lebih dari itu, humas digital berada di posisi yang strategis. Sobat HUMAS INDONESIA sebenarnya bisa memanfaatkan banyak kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi baru seperti Internet of Things (IoT), big data, cloud computing, machine learning, dan artificial intelligence untuk mempermudah pekerjaan PR.

Secara mendalam, humas digital tetap melakukan identifikasi pemangku kepentingan yang tertarik pada merek atau perusahaan atau institusi, memahami perilaku audiens, meninjau pandangan pengguna internet tentang institusi, mengurangi krisis, dan meningkatkan reputasi perusahaan.

Tugas humas bisa membuat, mengemas, dan mengkreasikan konten untuk disalurkan ke berbagai channel komunikasi berbasis owned. Tentunya humas digital mesti paham dahulu apa fungsi dan karakteristik setiap platform digital. Apakah Sobat HUMAS INDONESIA sulit mengkombinasikan peran-peran ini? Tenang, pada dasarnya digital hanyalah tools sebagaimana yang dikatakan oleh Managing Director Verve & Chameleon-Wunderman Thomspon Harry Deje.

Tanpa merasa terbebani, Sobat HUMAS INDONESIA hanya perlu memahami peran setiap kanal digital, menerima data, kemampuan menganalisis, lalu mengolah data menjadi cerita yang relevan. Singkatnya, humas digital mampu mengoptimalkan ekosistem digital sebagai upaya membina kepercayaan publik pada perusahaan.

Mengapa Transformasi Digital?

Sobat HUMAS INDONESIA, kita tidak perlu takut menghadapi berbagai perubahan. Sejatinya digitalisasi ini tidak selalu membawa keburukan. Bukan juga sesuatu yang harus dianggap baru apalagi istimewa. Banyak studi kasus yang menunjukkan keberhasilan positif perusahaan melalui penggunaan saluran digital sebagai bagian dari strategi komunikasi. Dari segi efisiensi, efektivitas, akseptabilitas, pencapaian tujuan, bahkan kelangsungan usaha.

Hadirnya social media listening tools, dapat menemukan potensi isu terkait brand, merespon dengan cepat dan tepat agar isu tersebut tidak membahayakan, memonitor brand mention, dan memunculkan sentimen sosial terhadap brand tersebut.

Enam Tahap Digitalisasi

Sepakat untuk lanjut memahami dinamika kanal digital, Sobat HUMAS? Simak seluruh tahapan ini untuk mempermudah pekerjaan PR secara digital.

Pertama, menjalankan bisnis seperti biasa. Apabila organisasi dijalankan dengan perspektif lama yang lazim diketahui, tidak masalah asalkan berhubungan dengan perkembangan digital.

Menjadi hadir dan aktif, merupakan tahapan kedua. Berbagai eksperimen yang dilakukan humas mampu membawa organisasi ke arah literasi digital. Kreativitas yang dituangkan humas dapat meningkatkan dan memperkuat perusahaan dalam transformasi digital di titik sentuh tertentu. Ketiga, merumuskan. Berbagai percobaan akan lebih terencana jika humas merumuskannya secara mendetil. Ditambah eksekusi yang menjanjikan, tingkat keberhasilan akan tampak terlihat melalui keberanian humas. Sudah selayaknya humas dipercaya sebagai agen perubahan mencari dukungan dari pemimpin untuk sumber daya baru dan teknologi.

Selanjutnya strategik, yakni tahapan humas untuk berkolaborasi dan berbagi wawasan. Dalam digitalisasi, humas dapat menghasilkan roadmap transformasi digital yang fundamental. Tahapan kelima yakni terpusat. Ada tim khusus transformasi digital untuk memandu strategi. Tim ini juga mengeksekusi sistem operasional berdasarkan tujuan bisnis serta stakheolders. Sementara infrastruktur baru bisa membentuk peraturan, para ahli, model, proses, dan sistem. Adanya tim khusus yang terpusat ini semakin mendorong organisasi untuk berhasil melakukan transformasi digital.

Inovasi dan adaptasi, transformasi digital memang menjadi cara baru dalam berbisnis. Namun tidak menutup kemungkinan untuk Sobat HUMAS INDONESIA mengedepankan ekosistem baru yang inovatif. Pastinya ekosistem yang diciptakan Sobat HUMAS INDONESIA sesuai dengan dasar teknologi dan tren pasar.

Yang perlu dicermati, ada tiga kunci utama yang harus diikuti praktisi humas saat memutuskan untuk mendigitalkan kanal perusahaan. Hal ini meliputi pemerolehan disiplin, pemahaman, dan pembinaan budaya, serta upaya pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, kunci terakhir adalah yang terpenting. Pasalnya, teknologi hanya berkontribusi 10 persen terhadap keberhasilan program humas. Sisanya 90% kesuksesan bertumpu pada soft skill seperti brainware atau kemampuan manusia. (akn/rtn)

Selengkapnya baca di PR INDONESIA Edisi Oktober 2019

Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas