Lydia Okva - Pranata Humas Ditjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes: Berani Mencoba Tantangan Baru

Share post
Foto: Dok. Pribadi

Lydia Okva Anjelia percaya bakat yang dimilikinya tak jadi modal satu-satunya, melainkan kerja keras dan kemauan mencoba hal baru.

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Lydia Okva Anjelia memulai kariernya sebagai humas sejak 2019 di Universitas Padjajaran (Unpad). Kini ia merupakan paranata humas Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Ditjen Yankes Kemenkes). Setelah sebelumnya berkecimpung menjadi humas rumah sakit umum pusat (RSUP) Dr. Hasan Sadikin pada 2012 dan humas Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan (Ditjen BUK) pada 2014.

Perjalanan kariernya memang tak selalu mulus. Perempuan kelahiran 16 Oktober 1986, yang menyukai dunia fotografi dan menulis sejak kuliah ini, sempat dilabeli sebagai tukang foto. Tetapi dirinya sadar betul rencana dan konsistensi semasa muda akan membawanya menjadi humas yang baik. Modal itu dijadikan pecutan semangat untuk menunjang kompetensi sebagai pranata humas di Ditjen Yankes Kemenkes.

Ibu satu anak ini melanjutkan magister Ilmu Komunikasi di Unpad, usai meraih gelar sarjana dari almamater yang sama, yakni program studi Jurnalistik pada 2009. Lydia juga sempat menjadi anggota ikatan pranata humas (Iprahumas) sejak 2016 hingga 2018, dan bertanggung jawab sebagai kepala bidang konten kreatif dua tahun setelahnya.

Ketika dilanda ketakutan atas apa yang dilakoninya, Lydia berprinsip satu hal. “Kalau kita punya ketakutan seperti tidak percaya diri, sebenarnya yang penting itu kerja keras, jangan bilang tidak mampu, tetapi dicoba. Seperti kata Thomas Alva Edison, 1 persen bakat, 99 persen datang dari kerja keras,” ucapnya semringah melalui Zoom Meeting Senin (27/9/2022) kepada HUMAS INDONESIA.

Hingga kini, ia masih aktif membagikan pengalaman kerja di media sosial. Tulisan reflektifnya itu sering dibubuhkannya melalui okvaa.wordpress.com. Lydia juga membuat konten melalui kanal Instagram. Mulai dari membagikan tips, review, dan keseharian menjadi working mom.

Menepis Anggapan

Menjadi seorang humas melatih dirinya yang kerap panik, untuk tetap tenang menghadapi hambatan dalam pekerjaan. Cara ampuh baginya dalam menuntaskan persoalan adalah berdiskusi dengan tim. Pasalnya hal itu mampu membawa sudut pandang baru dan sebagai pasokan semangat.

Profesinya menjadi pranata humas tak terlepas dari pandangan sebelah mata. Menginjak sepuluh tahun kariernya, pekerjaannya pernah dinilai tak penting. Namun, hal itu ditepis dengan menunjukkan kesungguhannya berkecimpung dan memaknai peran.

“Dari pengalaman tiga kali menjadi humas di tempat yang berbeda, tantangannya sama. Terkadang ada orang yang memandang humas sebagai profesi yang kurang penting dalam organisasi. Padahal humas punya posisi strategis,” ujarnya.

Besar harapannya untuk dapat terus mengambil peran agar humas di tataran rumah sakit pemerintah semakin solid. Ia juga ingin memaksimalkan perannya menjadi pranata humas dalam membangun citra positif dan kepercayaan publik terhadap rumah sakit di Indonesia. (RES)


Share post

Tentang Penulis
Humas

Humas